peace signpeace sign New Year, New Hope!!!! peace signpeace sign

Saturday, January 19, 2013

Mungkinkah Jakarta ‘Bermusuhan’ dengan Banjir?

suarajakarta.com

Menyambung post saya sebelumnya tentang faktor – faktor penyebab banjir, kembali saya akan menulis (karena mood sedang memuncak) tentang ehemm, lagi – lagi banjir. Tentunya sebagian besar warga Jakarta sudah akrab dengan yang namanya banjir. Akrab bukan berarti menyukai banjir tentu saja, melainkan dipaksa mengalami banjir. Penanganan banjir tentunya tidak segampang seperti perencanaan ahli – ahli sipil dan lingkungan di atas kertas, tetapi membutuhkan partisipasi seluruh warga Jakarta. Ya ketidakpedulian memang menjadi momok warga Jakarta. Terutama dari segi ketidakpedulian terhadap lingkungan. Maraknya pembuangan sampah secara sembarangan tentu menyebabkan penumpukan sampah di tempat – tempat yang tidak seharusnya jadi tempat sampah. Oke, kita sepakat untuk mulai peduli, jadi kita sampingkan dulu sedikit tentang peduli dan tidak peduli.
Sebenarnya riwayat penanganan banjir di ibukota kita, Jakarta, telah dimulai sejak zaman kolonial Belanda. Tahun 1619, Jan Pieters Zoon Coen, salah seorang gubernur jendral di jakarta waktu itu, telah membangun konsep Kota Air seperti di Amsterdam dengan pembuatan kanal – kanal penampungan luapan air. Dimulai dengan Banjir Kanal dari Manggarai sampai Muara Angke dengan pembangunan Pintu Air Manggarai dan Pintu Air Karet. Hal ini dilakukan dengan tujuan melakukan pengendalian aliran air dari hulu sungai dan mengatur volume air yang akan masuk ke pusat kota.  Kemudian di tahun 70an, disusunlah Master Plan Pengendalian Banjir oleh Kopro Banjir (Komandan Proyek Pencegahan Banjir) yang kemudian dikenal dengan nama Master Plan 1973. Tujuan utamanya adalah: Memperpanjang saluran penghubung yang sudah ada ke arah barat, yang kemudian dikenal dengan nama Cengkareng Drain. Dan, Membangun Saluran Kolektor di bagian timur yang kemudian dikenal dengan nama Cakung Drain untuk menampung aliran air dari beberapa kali di Jakarta seperti Kali sunter, Buaran, Kramat jati, dan Cakung.
Sekarang kita maju ke tahun 2000an, di mana dimulailah proyek Banjir Kanal Timur (BKT) yang akan membentang 23,5 kilometer, dengan lebar rata – rata sekitar 100 meter dengan kedalaman tiga meter. BKT direncanakan dapat menampung aliran air dari Kali Cipinang, Sunter, Buaran, Jati Kramat, dan Cakung. Daerah tampungan air mencapai 20.700 hektar. Pembangunan ini direncanakan akan selesai kurang dari satu dasawarsa. Di tahun 2011 sampai dengan 2012 Pemprov Jakarta membuat program Jakarta Emergency Dredging Initiative (JEDI). Tujuannya untuk mengeruk, merehabilitasi dinding sungai, serta pengadaan pompa di 13 sungai dan membangun lima waduk di area pantai utara Jakarta salah satunya. Proyek ini diharapkan mengurangi kawasan banjir sebesar 40 persen. ( suarajakarta.com )
Dari paparan penanganan banjir di atas sebenarnya sudah dimulai bahkan sejak zaman penjajahan. So, stop mengatakan bahwa pemerintah tidak memikirkan penanganan banjir. Berhentilah menyalahkan pemerintah dan mengutuki keadaan. Yang jadi masalah adalah kita dan warga Jakarta lainnya kurang kooperatif dalam mendukung kegiatan pemerintah. Meskipun begitu saya tidak sepenuhnya menutup mata dari kegiatan yang dilakukan pemerintah, sebab di dalamnya banyak pihak – pihak yang bermain dengan melakukan pemotongan dana proyek di sana – sini untuk kepentingan pribadi tanpa memikirkan akibatnya di masa yang akan datang. Dari atasnya sih sudah benar melakukan proyek sana – sini untuk menangani dan mencegah terjadinya banjir, tapi semakin ke bawah semakin banyak potongan dananya. Lihat Bang Yos, Foke, sampai Jokowi dan juga gubernur – gubernur sebelumnya, berusaha untuk ‘menenangkan’ banjir, semuanya berusaha keras, bahkan sampai turun ke lapangan memantau langsung kondisi lapangan. Tapi apalah daya mereka jika mereka kerja sendirian, tanpa dukungan aku, kamu, mereka, anda, saudara, saudari semua. Setidaknya mari kita bersama menjaga lingkungan, tidak usah muluk – muluk dengan menanam sejuta pohon atau membangun drainase, kita bisa memulainya dengan membuang sampah di tempatnya. Mungkin hasilnya tidak akan langsung kelihatan dalam beberapa hari, tapi butuh proses panjang dan mungkin bertahun – tahun baru kelihatan hasilnya. Tetapi setidaknya kita menunggu hal yang positif dan pasti berbuah manis. Jadi, mungkinkah Jakarta ‘bermusuhan’ dengan banjir? Mungkin, dengan kita menyingkirkan ketidakpedulian kita dan kemudian membuang sampah pada tempatnya.

No comments:

Post a Comment

please comment :)